Minggu, 29 April 2012

BERTENGKAR

Bisa dimaklumi mengapa orang sering bertengkar 
walaupun masih berbicara hal yang tidak urgen. 
Terkadang bercanda saja sudah bisa bertengkar 
apalagi ribut soal hal yang sangat prinsipil 
yaitu persoalan agama. 

Sebenarnya bolehkah kita bertengkar dalam tinjauan Agama Islam ?. 
Bagaimana pandangan kita tentang prilaku Bertengkar ?

Dalam pergaulan tidak jarang kita tidak sependapat dengan orang lain, 
dia punya pandangan begitupun dengan kita. 
Kata tidak sependapat bisa saja itu soal tinjauan belaka pada satu persoalan. 
Bisa juga karena wawasan ilmu yang berbeda, 
bisa juga karena motivasinya yang berlainan 
dan bisa pula hanya karena isme/dengki dan lain-lainnya. 

Jadi Sebenarnya tengkar itu dilatar belakangi oleh kurang lebih semua alasan tersebut diatas.


Tengkar dengan latarbelakang tinjauan berbeda adalah seperti contoh kalimat : Ari bertanya "bagaimana pendapatmu tentang gajah itu ? ,  Saga menjawab : besar sekali ya badannya. Ari menimpali : kalau aku malah lucu. Kata Saga : lho kok bisa lucu, lucu yang bagaimana,  Ri ?. Jawab Ari : Lucunya karena takut semut, besar tapi takut yang kecil, hahahaha " katanya sambil tertawa.

Apa dialog diatas yang masing masing jawabannya sangat tidak sama, lantas mereka bertengkar ? tidakkan.
Tengkar dengan latar belakang wawasan yang berbeda adalah seperti contoh kalimat : dunia itu penting bung ?, tidak penting kalau malah jungkir ke neraka. lho kok bisa begitu ? ya iyalah orang dunianya diperoleh dari yang haram, kalaupun halal hanyalah untuk melampiaskan hawa nafsu belaka. Dunia itu untuk mempermudah, tapi bisa mempermudah orang masuk neraka kan ? dan bisa juga mempermudah orang masuk syurga. sekarang apa dunia kita sejalan dengan Tuhan  dan Nabi-Nya ?. Emmmmm ? renung nya.

Apa kedua orang itu akan bertengkar juga ? tidak, walau satu orang terobsesi dunia, sedang yang lain terobsesi dayaguna tapi tak membuat mereka bertengkar, apalagi sampai bermusuhan.



Tengkar  yang dilatar belakangi oleh motivasi yang  berbeda  
seperti:  ayo ikut kamilah, gabung bersama kami, hasilnya Oke, dan tak ada ruginya. 
Datang temannya : dia pun ingin jualan juga : ayo-ayo kesini, murah- murah, kualitas Barat harga timur. Masing-masing  menawarkan jualannya, 
pembelinya itu-itu juga. bagaimana ??bersaing kan ? pasti. 
Terus apakah mereka bertengkar  face to face ? tidak. 
Tapi bisa main belakangkan ? (Fitnah). Kalau begitu, itu namanya sudah dengki. 
Fitnah itu pengecut orangnya, tidak gentle dan cenderung perempuan.

Dari sekian banyak tengkar yang ada "motivasi yang beragam itulah yang paling berbahaya" karena bisa memunculkan banyak trik, intrik dan politik.



Bagaimana Tuntunan Nabi dalam hal ini ?

Jauh sebelumnya, Nabi pernah marah besar
hanya karena sahabat bertengkar (Abu Darda, Abu Umamah, wailah bin Al-Asfa dan Anas bin malik), apalagi dalam persoalan Agama.

Seraya Nabi Bersabda : Tenanglah Wahai Ummat Muhammad ! sesungguhnya rusaknya ummat sebelum kamu tidak lain adalah gara-gara ini. Janganlah bertengkar. Karena orang yang bertengkar itu benar-benar lengkaplah kerugiannya.

Janganlah bertengkar. cukup dosanya bila kamu bertengkar. 
Janganlah bertengkar , karena orang yang bertengkar 
takkan aku beri syafa'at pada hari kiamat.



Janganlah bertengkar
karena aku jamin dia mendapat tiga buah rumah di syurga :
ditaman, ditengahnya dan diatasnya
bagi orang yang meninggalkan pertengkaran,
sedang dia benar-benar meninggalkannya.

Jangan bertengkar, 
karena yang pertama-tama dilarang Tuhanku terhadap diriku selain penyembahan kepada patung ialah bertengkar. 

Sebab Bani Israil telah terpecah menjadi 71 golongan , dan Nasrani menjadi 72 golongan.
Mereka semua sesat kecuali golongan yang terbesar.

Sahabat bertanya : siapakah golongan yang terbesar itu ? Rosul menjawab : Orang yang menganut apa yang diyakini oleh ku dan sahabat-sahabatku,

yaitu orang yang tidak bertengkar mengenai Agama Allah, 
dan tidak mengkafirkan seorang pun yang meyakini Ke-EsaanNya 
atas suatu dosa yang bisa dia ampuni.

Selanjutnya Rosul bersabda : Sesungguhnya Agama Islam bermula sebagai sesuatu yang asing 
dan akan kembali sebagai sesuatu yang asing. 
Para sahabat bertanya : ya Rosulullah  lalu siapakah orang-orang yang asing itu ?

Rosul menjawab : Orang-orang yang melakukan perbaikan dikala rusaknya umat manusia, tidak bertengkar mengenai agama Allah dan tidak mengkafirkan orang yang meyakini Ke Esaan ALLAH  hanya karena melakukan dosa. (Hadit dhoif)


Berhentilah BERTENGKAR, hendaknya semua orang menyatakan keimanannya, 
berbeda bukan berarti salah, 
apalagi dicap sesat bahkan divonis kafir pula.



PESAN
Debat bukan untuk mencari musuh. 
Debat untuk menjernihkan kebenaran. 
Tapi jangan mengoyak rasa keadilan, 
sebab akan tampak kepincangan kebenaran. 

Menata silahkan ! tapi usahakan selembut mungkin.







MATE-MATIKA IMAN

"HITUNG-HITUNGAN YUK"

dalam garis lurus -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5

0 (nol) adalah kondisi fitrah = baru lahir
-5 s/d -1 adalah kondisi minus,
1 s/d 5 adalah kondisi plus

misalkan usia anda sekarang 20 tahun berarti anda sudah bergerak 20 tahun
selama 20 tahun anda berbuat negatif 4 kali berarti anda pada kondisi -4 (minus 4).
... sedangkan perbuatan positif anda 6 (plus 6)

berarti -4 + 6 = 2

kesimpulan : dari data kepribadian anda ternyata anda hanya berada pada 2 (plus 2) saja. sedangkan anda sudah melangkah 10 langkah (4 langkah minus dan 6 langkah plus) BERARTI 8 LANGKAH ANDA (10 - 2 = 8) ADALAH LANGKAH SIA-SIA DALAM USIA 20 TAHUN.

ITU KALAU ANDA HANYA BERBUAT MINUS 4 DAN PLUS 6, BAGAIMANA BILA BANYAK MINUSNYA DAN SEDIKIT PLUSNYA ATAU BANYAK PLUSNYA DAN SEDIKIT MINUSNYA

SILAHKAN HITUNG SENDIRI SEBAGAI MOTIVASI DAN MENG INOVASI DIRI ANDA

By; Rinaldi Ulama

Selasa, 15 Februari 2011

Ummatan Wahidah: Karena duit, jadi Lupa

Ummatan Wahidah: Karena duit, jadi Lupa

Karena duit, jadi Lupa

Soal Rizki sebetulnya sudah dihamparkanNya sejak manusia belum tercipta. Buktinya adanya Alam ini sebagai Sumber yang takkan habis dikelola. Setiap manusia sudah mempunyai rizkinya masing-masing. Tinggal kita bergerak sedikit, sudah  akan  ketemu. Namun banyak diantara manusia yang memaksakan dirinya mencari rizki siang malam banting tulang peras keringat menguras semua tenaga yang ada, ternyata hasilnya dalam hitungan tidak seberapa, habis untuk hari-hari. Sementara disisi lain ada orang yang sekedar keluyuran sebentar, sudah banyak hasilnya, tapi itupun masih dalam hitung-hitungan dia sendiri. Banyak orang yang tak habis pikir akhirnya tentang persoalan rizki ini. Dikejar kali, dia pergi entah kemana. Ditunggupun tak kunjung datang,  tak intersest malah ditawarkan. Jadi bingung kan ? lah kenapa maksain diri ? kenapa kita mengejar kali ?  berangkat dari rasa apa  prilaku ini ?seolah-olah ada feeling tak dibagi oleh Allah.  Kalau begitu upaya maksakan diri itu adalah bentuk protes kita pada Allah, hadirnya dari rasa tak terima/tak legowo/tak ridho, ujungnya meronta dan tak bisa tenang. proteskan tak selalu bicara, terkadang lewat prilaku, contoh walk out sidang DPR, merajuknya perempuan, tangis, dll.

Sementara di sisi lain, sebagai hambaNya, pengabdian kita terkesampingkan dan bahkan tertinggal jauh. Akibat sikap ajula (gegabah) para pencari rizki yang menghabiskan segenap potensinya hanya untuk dunia. Demi dunia/uang jalannya dilebar-lebarkan kalau bisa jangan terkendala apapun hingga terkesan rakus dan Tamak. Tapi kalau untuk mencari makanan ruhani menuju ukhrowi jalannya disempit-sempitkan kalau bisa cari sebanyak-banyaknya alasan. 

Mendapatkannya saja sudah pakai melupakan Allah, apalagi kalau sudah didapat pastilah bisa lebih gila lagi ingkarnya. Jangan sampai karena menguber rizki (uang kan? ) isi kepala pun hanya soal cair melulu. Kenapa kita tak yakin rizki ini dibagi ?. Ketahuilah rizki takkan lari kemana, sadarkah kita akan hal ini ? jangan ragu. Rizkinya pasti bakal datang kepadanya, siapapun orangnya. kalau kita ragu gawatlah sudah kehidupan ini, bakal bengis semua manusia ini dalam mencari rizki, rampok sana, nyerong sini, hajar sana, curi sini, yang penting dapat duit. Apa tidak gawat ????.

Soal sedikit banyak itukan kata kita sendiri. Soal lambat atau cepat itukan anggapan kita saja !. Padahal manusia itu sesungguhnya benar-benar dicari oleh rizkinya sebagaimana dia dikejar oleh ajalnya.




Inikan yang kita kejar setiap hari ???????????????. Ini bukan rizki, duit hadir karena kesepakatan, tidak bisa mengganti nilai ciptaan Allah, ini cuma alat tukar tetapi mengapa ditumpuk-tumpuk bak harta berharga ?????.


Selasa, 01 Februari 2011

Pegang teguh Al-Qur'an-mu

Abu Sa'id Al-Khudri ra. telah menceritakan bahwa Rosulullah saw. pernah mengatakan dalam khutbahnya kepada kami :" Sesungguhnya tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali bagi orang orang berilmu yang bijak berbicara atau pendengar yang menyimak." Hai manusia, sesungguhnya kamu sekalian berada dalam masa perjanjian perdamaian, namun perjalanan waktu membawamu begitu cepat, sedang kamu sendiri sebenarnya telah tahu bagaimana malam dan siang membuat segala yang baru menjadi usang, mendekatkan segala kebutuhan hidup dan mendatangkan semua yang dijanjikan".
Maka berkatalah Al-Miqda kepada beliau : Ya Nabi Allah, pa maksud perjanjian damai ?
jawab nabi : Negri cobaan dan perselisihan.  Maka apabila kamu kebingungan mengenai urusan-urusanmu, seolah (tertutup) oleh kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, maka pegang teguhlah Al-qur'an itu.  karena sesungguhnya Al-qur'an itu Pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya dan saksi yang dipercaa kesaksiannya.  Siapa saja yang menjadikan Al-qur'an sebagai pemimpinnya, maka dia akan memimpinnya ke syurga. Siapa saja yang meletakkan Al-qur'an dibelakangnya  maka dia akan menggiringnya ke Neraka. Al-qur'an adalah penuntun yang paling jelas menuju jalan yang terbaik. Siapa saja yang mengucapkannya, maka benarlah perkataannya. Siapa saja yang mengamalkannya, maka ia akan mendapat pahala, dan siapa saja yang memberi keputusan dengannya, itulah hukum yang adil. (Khuthabur-rosul)

Rabu, 19 Januari 2011

Akhlaq

Akhlaq

A. Defenisi
Secara Etimologi (asal-usul kata), kata Akhlaq berasal dari bahasa Arab yang kata dasarnya diambil dari kata “ Khuluqo “ , sedangkan lafazh “Akhlaq” itu merupakan bentuk jamak. Lafzh ini mengandung nuansa makna : tingkah laku/pola, prilaku, sikap, kebiasaan, budi pekerti, etika, moral, perangai, watak kepribadian dan lain sebagainya.

Secara terminology (istilah), para ahli banyak yang sepakat dengan pola fikir Imam Al-Ghozali bahwa Akhlaq itu ialah Daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikir dan direnungkan lagi (Al-Ghozali).

Secara Qurani Cuma ada dua kali saja  disebut dalam Al-Qur’an yaitu         QS. ‘Asy-syu’ara 26: 137 dan QS. Al-Qolam  68:4. penjelasannya sebagai berikut :
  1. Dalam QS. ‘Asy-syu’ara (26) ayat 137  cenderung negative, sebab isinya merupakan tanggapan negative Kaum ‘Ad terhadap Da’wah Nabi Hud as, lewat pernyataan : Ini tiada lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang terdahulu. 
F     Kata “Khuluq” di sini diterjemahkan dengan : adat kebiasaan
  1. Dalam QS. Al-Qolam (68) : 4  berisi pernyataan dari Allah terhadap Muhammad Rosulullah, yaitu : dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung/luhur.
F     Kata “khuluq” disini diterjemahkan dengan :  pekerti.

Kesimpulannya : ada dua makna akhlaq yang dituangkan Al-Qur’an yaitu  pekerti yang sarat dengan makna ke dalam (in side) dan ke dua kebiasaan yang sarat dengan nuansa tingkah laku/prilaku yang keluar. Pada Akhlaq tercermin sikap dan prilaku. Semua prilaku adalah ungkapan dari dalam diri. Jadi bisa disimpulkan bahwa Akhlaq  adalah
  •  suatu prilaku yang lahir dari dalam (jiwa, hati) sebagai perwujudan diri kita sendiri.
  • Atau ungkapan diri yang bisa tertuang lewat qoulun maupun fi’lun yang berangkat dari (dimotivasi oleh) Qolbu.
  •   Singkatnya  Ekspresi diri lewat ucapan maupun perbuatan yang dimotivasi oleh jiwa/hati.

Kita contohkan saja, Jika prilaku yang keluar dari diri adalah mencuri, jiwa atau hatinya lah yang mendorongnya. Bagaimana wujud dirinya ? jawab : dirinya mewujud jadi pencuri.
Secara Sunnah Rosul          
Hadits :
Nawwas bin sam’aan al-anshori berkata : aku bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang  kebajikan (Al-Birru) dan dosa (al-itsmu). Maka beliau bersabda : kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa saja yang mencemaskan/takut dan tidak suka dilihat oleh  orang (disembunyikan).

Hadits:
Rosulullah memberi nasehat kepada Mua’adz bin jabal  : hendaklah kamu berbudi pekerti yang baik sebab orang yang paling baik akhlaknya adalah mereka yang paling baik agamanya.

Akhlak adalah ukuran agama seseorang, Akhlaq yang baik sebagai pertanda baik pula dia dalam agama. Dari agama yang baik ini lahirlah bermacam-macam kebajikan, sedang kebajikan itu sendiri adalah akhlaq yang terpuji/baik.  


B.     Pembahasan

Membahas bab Akhlaq, maka harus dipandang dari dua tinjauan yaitu
  •   Ditinjau dari Jenisnya, akhlah ada dua jenis (sebagai justifikasi) yaitu : 1. Akhlaq karimah/mahmuudah (terpuji) 2. Akhlaq madzmumah (tercela).
  •    Ditinjau dari hubungannya, akhlaq diarahkan kepada tiga hubungan yaitu   1. Akhlaq kepada Allah.  2. Akhlaq kepada sesama manusia,  3. Akhlaq kepada Alam  (hayati : hewan & tetumbuhan, Non hayati : tanah, air, laut dsb).


Pembahasannya kita satukan sebagai dua hubungan yang tak terpisahkan bahwa Bahagian jenis akhlak dijadikan sebagai penjustifikasi mana akhlaq yang terpuji dan  yang tercela = dijadikan standar nilai (furqon/pembeda) bagaimana berakhlaq (berhubungan) kepada Allah, manusia maupun kepada Alam. 
Tekanan bahasan ini adalah pada Akhlak yang terpuji dan tercela dalam hubungannya dengan Allah, manusia dan alam. Hanya saja dikarenakan terlalu sempitnya waktu yang diberikan serta luasnya bahasan akhlaq ini, maka pemateri hanya akan mengangkat beberapa jenis akhlaq saja, semata-mata hanya untuk memperdalam focus pemahaman, antara lain : Sombong >< Tawadhu’, Dusta >< Jujur, Khianat >< Amanah, Kufur >< Syukur . 
Upaya yang mau diajarkan adalah mengobati kejelekan akhlaq  dengan menyelesaikan atau   mengatasi sesuatu dengan kebalikannya, yaitu akhlaq yang tercela dilawan akhlaq yang mulia.
Motiv bahasan Akhlaq ini adalah dalam rangka memperbaiki (Ishlah) hubungan kepada Allah, manusia, dan Alam semesta. Jadi langsung metodenya diarahkan pada praktek, dan menjawab apa yang ditanya .

Adapun akhlaq yang diangkat ke permukaan adalah mengenai :

1.    Sombong lawannya tawadhu’
Sombong Ini akhlaq tercela, sedikitpun tiada manfa’atnya. Yang sombong, azab Allah ancamannya. Dari Abu Said Al-Khudry dan Abu Hurairoh berkata: Rosulullah saw. pernah bersabda : kemuliaan adalah kain-Nya, dan Kesombongan adalah selendangNya. Siapa saja yang menyaingiKU , Aku akan mengazabnya.

Tapi bagaimana sombong itu ?
Sombong itu adalah sikap arogan terhadap kelebihan dirinya, membanggakan diri, memuji diri, merendahkan orang lain (memandang remeh, bukan belas kasih),

Lawan dari Sombong adalah tawadhu’ yaitu merendah diri pada ketentuan-ketentuan Allah,. Bukan karena minder, hina tapi karena kesadaran  diri yang tinggi bahwa dia bukan apa-apa dibanding SANG PENCIPTA-nya. Dia cuma hamba, Allah lah Tuhannya. Berhadapan dengan Allah, tiada lain Allahu Akbar yang lain kecil. Tawadhu’ berarti meletakkan segala atribut-atribut duniawi, seperti kedirekturannya, kepresidenannya, semua jabatan, status social, kekayaan, kepandaian dan sebagainya. Kita datang pada Allah bukan sebagai guru, ustad, kepala sekolah, ataupun  siswa. Jabatan Kepala, guru, dan siswa itu hanya untuk berhadapan dengan sekolah. Sedangkan Ini kita berhadapan dengan Allah, bukan dengan manusia lagi, jadi status sosial harus ditanggalkan. Berhadapan dengan Allah jangan anggar atribut, sebab Allah punya proper name yang Serba Maha. Sujudlah padaNya  sebagai Hamba.

Tugas tugas kita mencek diri:   Adakah kebanggaan (nilai lebih) yang membuat jadi congkak lantas jadi merendahkan/menghina yang lain. Bila ada itulah sombong.  Iblis pun dulu begitu : QS:7:12 -13, hingga tak mau sujud dengan Ikhlash.




Ayat 12. Allah berfirman : Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku memerintahkanmu ? Iblis menjawab : Aku lebih baik dari padanya, : Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Ayat 13 : Allah berfirman : Turunlah kamu dari surga itu karena kamu tidak sepantasnya menyombongkan diri di dalamnya, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang dihinakan.

Itulah Iblis, kesombongannya membuat ia terhina, bahkan terlaknat hingga hari kiamat. Bahkan Rosulullah bersabda : siapa saja yang di dalam hatinya masih ada kesombongan sebesar biji bayam, pantas baginya neraka.
Kalaupun kita punya kelebihan, baik tenaga, harta, ilmu, skil. jadikan itu untuk menolong dan menyelamatkan  sesama , berbelas kasihlah, bukan malah menghina dan merendahkan martabat orang lain.  Bahkan hingga tak mau sujud kepada ALLAH .sedang DIA-LAH YANG TERBESAR.
Jadi Sombong yang sesungguhnya adalah yang tak mau beriman dan sujud  kepada Allah dan merendahkan manusia.

Coba renungkan ungkapan ini
Merendah diri tanpa menjadi hina .
Yang tak sombong harus teruji lewat diskusi.   Apakah bisa
mengakui kebenaran pendapat orang lain saat berdebat, marahkah saat lawan bicaranya benar.  Maukah menerima kebenaran yang ada pada lawan bicara. Ini perlu jiwa besar, perlu dada yang luas, dan lapang, hanya orang yang punya jiwa besar yang bisa menampung harapan besar. Yang tak bisa/mau menerima kebenaran = Sombong. 

Apa yang dia pertahankan hingga tak mau menerima kebenaran yang datang kehadapannya, apakah harga dirinya sebagai abang, atau sebagai ketua, atau sebagai senior akan terkoyak, gengsinya sebagai ustadz atau sebagai guru akankah tercemar. Ingat bukan karena dipuji kita jadi mulia, atau sebaliknya bukan karena dicaci lantas kita jadi hina. Bukan disana letak kemuliaan  atau kehinaan. Apalagi pada harta. Nama, tahta dan segudang atribut duniawi itu.
Atribut apalagi yang dibanggakan, bila jadi penghalang untuk menerima kebenaran.

Contoh debat Ibrahim pada Raja Namrud (2:258) dan 21:52-71. Hanya karena kedudukannya sebagai raja, ternyata menghalangi Raja Namrudz dari kebenaran yang disampaikan Nabi Allah, Ibrahim. Itulah arogansi penguasa (orang yang duduk dalam pemerintahan). Tahta, membuat dia Sombong. Itu orang yang dibesarkan oleh kekuasaan, bukan dibesarkan oleh kebenaran.  Besar karena kekuasaan bukan besar karena kebenaran. Jangan andalkan kekuasaan, sebab bukan disitu letak kebesaran hakiki tersimpan, tapi ia tersimpan pada  kebenaran, berjiwa besar menerima kebenaran, bahkan tak terkungkung dengan kekuasaan.                                                                                     
                                                                                                                                          
----

2.    Jujur shidiq lawannya Dusta
Dusta itu : menyatakan sesuatu bukan yang sebenarnya, lain dimulut lain dihati, berkata dia dusta. Di zaman Rosulullah ada orang –orang yang menyatakan keimanannya : kami beriman kepada Allah dan RosulNya, padahal mereka tiada beriman pada Allah dan RosulNya, mereka coba menipu Allah dan para Mu’minin, padahal tiada yang mereka coba tipu melainkan diri mereka sendiri, Cuma mereka tak menyadarinya (2: 8-10).  Sebetulnya secara fakta : kejujuran seorang penipu tidak dipercaya sebab ia penipu , namun tipuannya bisa dipercaya (kasusnya penipu tertipu bisa dimaknai ke dalam dan keluar).  Tidak ada satu orang pun yang bisa menipu dirinya sendiri. Orang yang belajar menipu orang lain = dia belajar menipui dirinya sendiri.
Dusta  adalah satu diantara ciri khas orang munafiq.
Kasus : jual beli , kiloan di kurangi, barang ditukar kwalitasnya.

Lain halnya dengan Jujur. Jujur itu : mengutarakan sesuatu sesuai faktanya (apa yang ada), walau dengan resiko sepahit apapun. Sekarang sulit ketemu orang jujur seperti ini. Yang banyak adalah orang yang menutupi yang sebenarnya. Prakteknya banyak main belakang seperti : yang korupsi. Bila jujur orang ini terbujur. Kalau begini, jujur dalam pandangan kita hina dan rendah, jujur kok jadi minder.
Kalau dilihat kata Sidqun (jujur) dekat sekali dengan Shiddiq (membenarkan/meluruskan) berarti Jujur itu menyangkut dengan kelurusan dan kebenaran yang sesungguhnya. Jujur namanya bila ada kebenaran yang diungkap/disingkap selurus-lurusnya, tiada yang disembunyikan.  Sesungguhnya keJujuran itu sudah ada, Cuma menjujurkannya ini yang sulit, kita tak punya nyali /keberanian. Jadi Jujur itu butuh keberanian, keberanian mengungkapnya dan menanggung jawabi  segala resiko kejujurannya. Tindak lanjuti kejujuranmu, dengan cara yang benar, bisa minta ampun, bisa mengutarakan salahmu, bisa pula memperbaikinya, jangan kamu biarkan kejujuranmu itu. Sebaliknya Yang tak jujur/dusta = pengecut orangnya, tak bernyali.
 

 jujur itu sulit bila hal yang dipersoalkan adalah rasa malu, terutama malu mengakui kelemahan, kebodohan, ketidaktahuan dan kesalahan  diri sendiri.Apalagi harus disuruh mengungkapkannya di depan umum walaupun forumnya dikondisikan. Tapi mengungkap itu butuh keberanian dan jiwa yang besar, tak semua orang memilikinya. Bersyukurlah kita karena bisa jujur karena hal itu sendiri bisa mengangkat beban jiwa satu sisi dan sisi yang lain bisa mengatasi persoalan kita .




3.          MEMA’AFKAN >< DENDAM
“afwa”   artinya menghapuskan hukum balas  atas kesalahan yang diperbuat. Allah berfirman :

Jikalau kalian memaafkan, itu lebih dekat kepada ketaqwaan.



  
4.          KHIANAT >< AMANAH
Khianat itu mengkhilafi kepercayaan. Khianat artinya bercidera. Orang yang berkhianat berarti menciderai kepercayaan.  Khianat satu dari ciri Munafiq, idza tu’mina khona. Bila dipercaya dia mengkhianatinya.
Allah berfirman dalam QS.8:27.
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu berkhianat kepada Allah dan Rosul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.

Kesimpulan ayat :
Ada larangan berkhianat pada Allah, Rosul dan amanah yang dipercayakan. Kalau begitu khianat atau amanah itu menyangkut soal apa ? Jb : soal iman (kepercayaan). Bersikap dan berprilaku membelot/berseberangan dari kepercayaannya (Imannya).
Jaman penjajahan ungkapan pengkhianat bangsa  sama artinya keberpihakannya kepada bangsa lain, prilakunya  membela dan membantu menghancurkan bangsa sendiri, bisa lewat menyerahkan dokumen Negara kepada pihak lawan, bahkan menjual negara  dsb.
Contoh ke kita, kamu berteman akrab, semua rahasia tahu. Kita cerita rahasia kita itu kan karena kita percaya padanya, kalau tidak buat apa cerita bodoh namanya (menjerumuskan diri sendiri). Lalu satu saat dia ceritakan rahasia itu pada orang yang memusuhimu (dia menjual rahasia kamu dengan musuh supaya kamu bisa dikalahkannya).
Rosulullah   

Kasus Pengkhianatan dalam sejarah ajaran Agama banyak. Ada Istri berkhianat pada suaminya (padahal suaminya adalah Nabi Allah : 66:10) mereka itulah Istri Nabi Nuh dan Luth.

Rosulullah bersabda :
Tidak sempurna keimanan seseorang yang tidak bersifat amanah dan tiada sempurna agama seseorang yang tidak dapat menepati janji/komitmen.

Kelak kita sambung lagi